Muhammad Irsyad Al-Bikri

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Guru PKNku Mengesalkan

Guru PKNku Mengesalkan

Matahari mulai menyingsing di langit timur. Menggantikan kegelapan malam dengan terangnya sinar matahari di pagi itu. Bunga-bunga bermekaran dan burung-burung saling sahut-menyahut dalam bersiul, seakan ingin memperlihatkan siapakah yang terhebat diantara mereka. Sayangnya, kisah hidup itu tak seindah sebagaimana gambaran alam yang telah diciptakan oleh tuhan sedemikian rupa. Pagi itu adalah awalan yang baru bagi hidupku. Tak ada yang tahu bagaimana hidup ini kedepannya. Terkadang bahagia menghampiri, patut kita syukuri. Terkadang kesedihan menghampiri, patut kita sadari bahwa ada pelajaran bagi kehidupan ini. Dengan dimulainya hari baru, maka dimulailah sejarah baru dalam hidupku. Sejarah akan mencatatkan bahwa betapa agungnya orang yang berdiri di jalan kebenaran meski ia sendirian. Tak ada yang berpihak dengannya. Tapi, kebenaran tetaplah kebenaran. Meskipun hanya seorang atau bahkan tak ada satupun orang yang mempercayainya.

***

“Aku pergi sekolah dulu ya bu.”

“Iya. Hati-hati. Jangan sampai buat masalah lagi ya. Awas aja kalau Ibu sampai dapat laporan lagi.”

“Siap boss!”

Akupun bergegas pergi ke sekolah. Sebagaimana biasanya, itulah keseharianku sebagai siswa. Awalnya tak ada yang aneh pada hari itu. Aku menganggap bahwa hari itu akan seperti hari biasanya. Ternyata dugaanku salah. Tepat saat pelajaran dimana aku pasti berdebat dengan guruku, aku mendapatkan masalah besar.

“Bagaimana pendapat kalian dengan pemerintahan Indonesia sekarang?” tanya guru PKNku.

Bergegas aku mengacungkan jari dan menjawab pertanyaan guruku. Tak ada yang menyangka dengan jawaban yang kulontarkan dari mulutku.

“Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan nak? Kalau kamu yakin, bersiap-siaplah menghadapi kehidupan yang penuh siksaan. Karena engkau telah menentang hakikat dari kehidupan berdemokrasi.”

“Aku tak peduli bu. Yang terpenting aku berada di jalan yang benar dan tuhanku meridhoinya.” Jawabku tegas dengan tatapan tajam ke arah guruku lalu keluar dari kelas.

Tempat favoritku saat dirundung masalah, yaitu balkon sekolah. Segala isi hatiku selalu kubicarakan disini. Dalam sunyi dan kesendirian. Tak banyak yang tahu tentang tempat favoritku ini, termasuk guru-guruku tak banyak yang tahu.

“HEAAAAA!!!”

“Alex, udah. Jangan kayak gitu. Aku khawatir ngelihat kamu terus-terusan ditimpa masalah. Nanti gak tenang hidup kamu.”

Datanglah seseorang menghampiriku di balkon sekolah. Satu diantara segelintir orang yang mengetahui tempat favoritku. Clarissa namanya,

“Aku hanya berteriak keras-keras demi menghilangkan frustasiku. Setidaknya kalaupun tidak hilang, berkuranglah rasa frustasiku.” Jawabku dengan emosi yang tampak dari raut wajahku.

“Udah. Gak usah dipikirin kata-kata Ibu Guru tadi.”

“Tidak, apa yang dikatakan Ibu itu memang benar. Aku akan menderita jika aku terus-terusan mengkritik lebih jauh pemerintahan sekarang. Pemerintah pasti tidak akan terima kinerja mereka dijatuhkan begitu saja oleh bocah ingusan sepertiku yang baru berusia 17 tahun. Tidak mungkin.”

“Apa yang kamu katakan ada benarnya juga. Tapi, setidaknya kalau kamu ada masalah jangan dipendam sendiri. Cerita ke orang lain, orang tuamu misalnya. Ingat lex, manusia itu makhluk sosial. Gak bisa hidup sendiri. Mesti ada yang menemani, walaupun keluarga.” Akhir kata dari Clarissa lalu berbalik menuju lantai bawah.

Aku terus larut dalam memikirkan masalah-masalahku di balkon sekolah. Hingga aku tak sadar bahwa matahari telah tepat di atas kepalaku, sebagai pertanda bahwa telah masuk tengah hari.

“Apapun yang terjadi, aku akan tetap teguh dengan pendirianku yang sekarang ini. Maafkan aku bu kelak kehidupanku pasti takkan tenang lagi.” Sebutku dalam hati.

Tepat saat aku turun, bel sekolah berbunyi pertanda jam istirahat makan siang telah masuk. Tiba-tiba ada berita panggilan, lagi dan lagi aku dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Entah yang keberapa kalinya semenjak aku duduk di bangku sekolah menengah atas ini.

“Selamat siang Alex. Murid berbakat lagi berprestasi di sekolah tercinta ini.” Ledek kepala sekolahku.

“Hahahahaha, ledekanmu lumayan lucu pak. Tapi aku tak tertarik dengan ledekanmu dan emosi takkan terpancing dengan umpan murahan seperti itu.”

“Hahahaha, kau memang layak dikatakan murid biadab ya Alex. Hukuman jenis apa lagi yang harus kuberikan kepadamu, ha?”

“Hukuman? Kenapa saya dihukum? Apa salah saya pak?”

“Bertanya tentang kesalahanmu? Coba kau tanyakan sendiri kepada guru PKNmu apa kesalahanmu. Mungkin dia bisa menjawabnya dengan rinci. Hahahahaha” Dia menjawab sambil tertawa mengejekku dan melirik ke arah guru PKNku.

“Saya rasa saya tak pantas dihukum. Kenapa berkata sebuah kebenaran dianggap sebuah kesalahan. Ataukah hal tersebut juga udah diatur sama pemerintahan gak jelas sekarang pak, ha?”

“Hei, JAGA MULUT KAMU YA! Saya bisa saja mengadukanmu kepada pihak berwajib atas penghinaan terhadap pemerintah. Dan kau bisa dihukum penjara paling sebentar 2 tahun lamanya. Kau berani? Hah, bocah ingusan mah mana berani.”

“Saya berani, kenapa saya harus takut. Selagi saya benar saya gak akan takut dengan siapapun. Camkan itu pak! Dasar penjilat biadab.” Akhir kata dariku sembari balik badan lalu keluar dari ruangan itu.

“Terkadang aku merasa jijik dengan ruangan itu. Berada di satu tempat dengan para penjilat. Sunguh menjijikan.” Gerutuku dalam hati.

Tiba-tiba Clarissa menghampiriku.

“Kenapa lagi kamu dipanggil ke ruangan kepala sekolah? Ada masalah lagi?”

“Enggak. Hanya masalah sepele yang seharusnya tak dipermasalahkan. Hanya orang-orang bodoh yang mempermasalahkan hal tersebut.”

“Masalah apaan emang? Masalah saat pelajaran PKN tadi?”

“Yah begitulah. Makan siang gak?”

“Gak. Aku lagi gak makan siang nih.”

“Okelah, aku pergi dulu. Mau makan siang. Cacing dalam perutku udah demo nih, hahahahaha.”

“Yaudah, pergi sana.”

Terkadang dalam sendiri aku berpikir. Kenapa semakin hari dunia semakin aneh rasanya. Kebenaran dianggap sebuah kesalahan besar. Dan sebuah kesalahan besar tak dianggap sebagai masalah. Hal tersebut masih menjadi tanda tanya terbesar dalam hidupku. Terkadang tersirat sedikit jawaban dalam hatiku, mungkin tanda dunia udah mau kiamat. Yah, harap maklum. Pemikiran manusia fana masih mengotori otakku.

30 menit telah berlalu tanpa kusadari, hingga akhirnya bel pertanda masuk berbunyi. Seluruh siswa serentak masuk, seakan-akan telah ada komando secara tidak langsung tapi entah dari siapa. Padahal hanya bel sekolah biasa. Hal tersebut juga masih membuatku agak heran. Kenapa? Dan sebagainya.

Pelajaran setelah makan siang ini adalah pelajaran favoritku, yaitu sejarah. Seakan-akan pemikiranku terbuka akan hal-hal yang telah terjadi di dunia ini dan pengaruhnya di masa yang akan datang. Serta mengetahui, bahwa jenis-jenis kebengisan, kebiadaban di masa lalu pasti akan terjadi di masa yang akan datang dengan tokoh utama yang berbeda di setiap zamannya. Contohnya saja, Namrudz pada zaman Nabi Ibrahim, lalu berlanjut pada beberapa kurun setelahnya, yaitu Fir’aun pada zaman Nabi Ibrahim.

“Baik anak-anak. Bagaimana kabarnya hari ini?”

“Baik pak.” Serentak kami menjawabnya satu kelas. Kami semua sangat menyukai pelajran dengan Pak Blofis. Beliau seperti menerima semua pendapat yang kami lontarkan dari mulut kami. Selagi benar, meskipun menyakitkan untuk beliau terima. Tetap diterimanya karena hal tersebut benar. Itu termasuk faktor yang membuatku suka dengan beliau.

“Oke, pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari sejarah pergerakan PKI di Indonesia. Yang mana puncaknya terjadi pada tanggal 30 September 1965 atau yang kita kenal dengan peristiwa G30S/PKI.”

Pak Blofis menjelaskan kepada kami sejarah tentang PKI yang begitu sadis dan mengerikan. Hingga rasanya ingin kutumpaskan seluruh orang yang menganut paham PKI dengan tanganku sendiri. Dan puncaknya adalah G30S/PKI, sejarah kelam yang penuh kesadisan dan penderitaan. Dan tujuan dari hal tersebut adalah menjatuhkan pamor ummat islam di negaranya sendiri. Sebagaimana yang terjadi hari ini. menyedihkannya negeriku ini ya tuhan.

“Baik, ada yang ingin bertanya anak-anak?”

Ramai teman-temanku yang mengangkat tangan dan ingin bertanya. Hingga akhirnya Pak Blofis menunjuk satu diantara 20 orang yang mengangkat tangan, yaitu Clarisse.

“Pak, benar gak sih kalau pemerintahan sekarang ini sistemnya kayak semi-semi sistem PKI?”

“Hmmmm, gimana ya bapak mau jawabnya. Hahahahaha, membingungkan bagi bapak. Tapi menurut bapak, mereka sekarang sedang mendekati sistem tersebut. Percaya atau tidak mereka lambat laun sedang mengarah ke sana. Kita lihat saja perkembangannya beberapa tahun ke depan. Semoga saja tidak ya anakku. Karena sangat mengerikan bila hal tersebut terjadi.”

“Terima kasih pak. Jawaban bapak memuaskan bagi saya.” Jawab Clarisse sambil tersenyum.

“Menurutku kau puas dengan jawaban Pak Blofis, Clarisse.” Tebakku sembari menyikutnya.

“Hahahahaha, lumayan puas Lex.”

Tak terasa kami telah di penghujung jam pelajaran sejarah. Pertanda bahwa jam pulang telah tiba. Tak perlu menunggu, tak berselang lama setelah pertanyaan Clarisse, bel pertanda pulang sekolah berbunyi.

“Baik anak-anak, terima kasih atas perhatiannya hari ini. Sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya.”

Serentak, tanpa perlu komando dari seorang pemimpin. Kami satu kelas telah meninggalkan ruangan kelas kami dan pulang ke rumah masing-masing. Tapi, tidak denganku. Karena kehidupanku selalu bermasalah, pada saat jam pulangpun masalah tetap menghampiriku. Seakan-akan diriku dengan masalah telah ditakdirkan tuhan berjodoh. Aku berpapasan dengan guru PKNku yang mengesalkan.

“Wah… wah… wah… bertemu dengan pembuat onar rupanya di lorong kelas. Pertemuan yang tak terduga. Karena Ibu ingin mendengarkan alasan kenapa kamu sangat membenci pemerintahan sekarang. Kenapa? Tolong jelaskan dengan rinci kepada Ibu.”

“Cukuplah, seharusnya Ibu tahu kenapa saya sangat membenci pemerintahan sekarang. Ayah saya, seseorang yang tak bersalah tiba-tiba ditembak mati begitu saja dan penghukuman terhadap sang tersangka terhenti begitu saja di tengah jalan. Apakah karena Ayah saya seorang aktifis lalu pemerintah tidak mennginginkan seorang aktifispun hidup pada masa ini. Karena takut akan kritikan pedas dari lisan para aktifis? Entahlah bu, yang jelas saya tetap teguh dengan pendirian saya. Takkan ada yang bisa menganggunya.”

“Bukan begitu anakku, hidupmu akan menderita kalau kamu tetap berpikir seperti itu. Ada baiknya kalau kamu berpikir jernih-jernih.” Tanggap guru PKNku sambil memasang raut wajah iba kepadaku. Padahal itu hanyalah raut wajah tipuan saja.

“TIDAK! Saya akan tetap teguh pada jalan saya sendiri. Meskipun saya akan menderita ke depannya, yang terpenting saya berada di jalan yang benar. Tidak berada satu jalan dengan para penjilat.” Jawabku dengan tatapan sinis sambil berbalik dan pergi.

Akupun bergegas pergi menjauh dari guru PKNku. Segera menuju ke gerbang sekolah untuk pulang, seperti biasa dengan angkutan umum. Jarak sekolahku dengan rumah tidak begitu jauh, kira-kira 7 km. Kira-kira butuh 15 menit kalau berjalan kaki. Tapi kali ini aku menggunakan angkutan umum, jadi lebih cepat. Yah kira-kira 5-10 menit.

Setibanya aku di rumah, aku langsung disambut Ibuku plus makanan lezat buatan Ibu. Ditambah senyum manis dari Ibuku, seakan-akan masalahku menghilang begitu saja. Entah mengapa seakan-akan Ibuku seperti ada kekuatan menghangatkan serta menenangkan jiwaku dikala senang maupun susah.

“Bagaimana sekolahnya hari ini Lex?”

“Yah, begitulah bu. Seperti biasa, nyangkut di pelajaran PKN. Alex bermasalah terus sama guru PKN Alex. Ibu itu kayaknya benci banget sama Alex. Tapi, itu pemikiran Alex saja sih bu.”

“Gak boleh gitu juga Lex, walaupun begitu dia tetap guru Alex. Setidaknya hormatilah Ibu itu sebagai guru Alex.”

“Iya bu.”

Aku menyantap semua makanan lezat yang telah disiapkan sepsial untukku. Kalau aku disuruh milih mau makan di tempat makan cepat saji atau masakan Ibu, maka aku pilih masakan Ibuku. Karena, lezatnya gak ada dua. Top markotoplah istilah kerennya.

Usai sudah aku menyantap seluruh makanan yang Ibuku siapkan, aku langsung menuju kamarku dan berganti baju. Lalu rebahan di atas kasur. Sudah kebiasan anak muda zaman sekarang kayaknya.

Aku hanya tinggal berdua bersama ibuku di rumah dua tingkat bergaya eropa ini, yah lebih dari cukup untuk kami berdua. Tapi, terkadang aku merasa sedih karena kesepian dan kasihan rasanya ibuku harus bekerja demi menghidupiku. Hanya karena Ayahku meninggal tanpa ada pertanggung jawaban yang jelas dari pihak berwajib. Tapi, Ibuku tak terlalu mempermasalahkannya walau kadang aku berpikir bahwa Ibu menyimpan kesedihan dan penderitaan yang amat mendalam.

“Bagaimana aku akan memulainya? Gadget belum punya, atau aku ke warnet saja. Warnet akan jadi ladang perjuangan bagiku untuk membela yang haq.” Pikirku sembari rebahan.

Hal tersebut masih terngiang di alam bawah sadarku. Hingga datangnya hari esok, aku baru menyadari bahwa pemikiran tersebut akan menjadi lompatan baru dalam hidupku. Yang membuatku kelak akan begitu menderita tapi menyenangkan. Apa yang kalian pikirkan jika berada di posisiku? Mungkin akan menyerah dan mengakui kekalahan serta memendam kebenaran itu hingga akhirnya hilang begitu saja. Entahlah, aku tak tahu apa yang orang lain pikirkan.

Keesokan harinya, matahari masih memperlihatkan keperkasaannya kepada makhluk bumi. Saat itu aku tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa menjalani rutinitas sebagai siswa. Melakukan kewajiban agar hak bisa kami dapatkan.

“Aku berangkat dulu ya bu. Mungkin aku bakalan telat pulangnya, soalnya mau mampir sebentar.”

“Iya, hati-hati. Jangan lupa pesan ibu semalam ya.”

“Iya bu.”

Akupun bergegas menyandang tasku lalu keluar dari rumah, berjalan atau mungkin berlari-lari kecil menuju sekolahku. Aku lumayan bersyukur hari ini, karena tak ada kendala yang harus kuhadapi dengan serius. Terbilang lancar hariku daripada biasanya. Dari pagi hingga siang hari tak ada masalah yang begitu serius yang harus kuhadapi, yah paling hanya masalah kecil seperti ada yang meledekku karena masalah kemarin. Hanya saja hal tersebut tak jadi masalah bagiku. Karena telah terbiasa menghadapi masalah besar.

Saat bel sebagai tanda pulang berbunyi, saat itulah petualangan kehidupan fanaku dimulai. Dari hal kecil hingga akhirnya menjadi bukit.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali